06.45
0
Mojokerto-(satujurnal.com)
Mr. Kang Jungku, Presiden Direktur PT Rira Indonesia terancam dipolisikan karyawannya. Menyusul penolakan menandatangani kesepakatan dengan karyawan yang merasa menjadi �korban� perlakuan kasar pucuk pimpinan produsen gitar yang berlokasi di Desa Tempuran, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto tersebut. 

WNA asal Korea Selatan menyatakan memilih pulang ke negaranya daripada harus menandatangani kesepakatan. 

Yudistira, Ketua PUK SPSI LEM PT Rira Indonesia mengungkap, hari ini pihaknya menggelar pertemuan dengan manajemen perusahaan yang memiliki 170 karyawan itu terkait keluhan karyawan terhadap sikap dan perlakuan Mr Kang Jungku. Para karyawan mengaku resah jika presdir tersebut masih bersikap yang cenderung semena-mena. Karyawan berharap ada jaminan bahwa presdir tidak akan lagi melakukan tindakan yang mengancam keselamatan fisik, juga tekanan psikis. Itu harus dituangkan dalam surat kesepakatan. 

�Sampai di ujung pertemuan, Mr Kang Jungku bersikukuh menolak menandatangani kesepatan dengan berbagai alasan. Bahkan ia mengancam akan kembali ke negaranya jika dipaksa menandatangani kesepakatan. Karena tidak ada titik temu, kami berencana untuk membawa persoalan ini ke kepolisian,� cetusnya. 

Menurut Yudistira, berkali-kali pihaknya mendapat keluhan karyawan terkait ulah Mr Kang Jungku. 

�Teman-teman mengaku mendapat perlakuan kasar presdir (Mr. Kang Jungku). Acapkali presdir bertindak semaunya sendiri. 

Perlakuan presdir, lanjut Yudistira, dinilai para karyawan sudah melebihi batas. Bahkan, untuk mengungkapkan amarahnya, presdir tak segan melempar barang ke arah karyawannya. �Seperti yang dilakukan di (Mr Kangjunku) Rabu (11/06/2014) kemarin, sekitar pukul 09.30 WIB. Dia marah-marah dan melempar bodi gitar yang belum jadi kearah kamar mandi yang didalamnya ada salah satu buruh,��ungkapnya. 

Yudistira menyebut, sikap semenah-menah presdir bisa mengakibatkan buruh menjadi ketakutan dan trauma, apalagi dilakukan saat buruh sedang pergi ke toilet disela-sela kerja. Tak hanya itu, perusahaan juga membuat peraturan baru dengan memasang papan tulis didekat toilet dengan tujuan para buruh harus menulis nama dan bagian, ketika hendak masuk toilet. 

��Buruh yang bernama Hadi Siswoyo di lempar gitar kearahnya. Otomatis, buruh ketakutan dengan perlakukan seperti itu," ujarnya. 

Bukan hanya gitar yang dilemparkan, lanjutnya, disaat presdir memegang megaphone juga sempat dilemparkan ke korban. Selain Hadi, beberapa buruh yang lain juga mengaku mengalami hal yang sama. Namun karena merasa takut akibat perlakuan kasar itu, para buruh pun memilih banyak yang diam dan hanya mengelus dada.

Selain soal perlakukan kasar presdir, Yudistira juga menyayangkan pihak perusahaan yang tidak mengikutsertakan karyawannya dalam program BPJS (badan penyelenggara jaminan sosial)

��Dulu kita juga mendapatkan uang makan sehari sebesar Rp 10 ribu, namun mulai tahun ini justru uang makan di hapus,��beber Yudistira yang mengaku sudah bekerja selama 12 tahun di perusahaan tersebut. 

Sementara itu, Hadi Siswoyo (28) salah satu karyawan yang juga korban perlakuan kasar presdir mengaku hanya pasrah setelah mendapatkan tekanan psikologi. 

�Kalau mau laporan ke polisi, saya takutnya di intimidasi dan jenjang karir saya bisa tidak jelas,��katanya.  
Kepala Personalia PT Rira Indonesia, Nanang, belum berhasil dikonfirmasi, dirinya mengaku masih mengelar meeting dengan pihak buruh terkait persoalan tersebut. (wie)