05.46
0
Mojokerto-(satujurnal.com)
Lima pasien RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto meninggal dunia akibat penyakit paru-paru obstruksi kronis (PPOK). Jumlah pasien PPOK meninggal itu terakumulasi sejak awal tahun ini. 

''Minggu lalu baru ada seorang pasien PPOK yang meninggal. Kalau mulai awal tahun ini, jumlah yang meninggal ada lima orang,'' kata dokter spesialis paru-paru RSUD Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, dr Arief Hermanto SpP.

Kunjungan pasien PPOK atau awam mengenal sebagai penyakit 'paru-paru molor' di poli paru menurutnya juga cukup tinggi. ''Per hari bisa sampai 40 pasien,'' tuturnya. 

Rokok, ujar Arief, jadi biang utama PPOK. ''Penyebab utama PPOK ini karena merokok,'' ucapnya.

Risiko mengidap PPOK atau tidak bisa dihitung dengan cara memperhitungkan indeks Brinkman. Seseorang dikatakan berisiko mengidap PPOK apabila indeksnya di atas 200. Nilai itu didapat dari banyaknya batang rokok rata-rata sehari dikali tahun. Misalnya kalau orang merokok 10 batang sehari, maka jika dikalikan 20 tahun hasilnya 200. Jadi kalau sudah diatas itu dia punya risiko PPOK.

''Makanya kalau ada orang menghisap rokok lebih dari 10 batang tiap hari selama lebih dari 10 tahun, dia sangat berisiko terkena PPOK,'' jelasnya.

PPOK berbeda dengan asma. Penderita asma biasanya makin sesak kala malam hari. Dan makin sesak makin batuk. Tapi PPOK seringkali batuknya siang hari. Dan merasakan sesak ketika beraktifitas.

Asma bisa hilang total. Tapi PPOK tak bisa hilang total dan cenderung makin memburuk.

''Untuk memastikan PPOK atau tidak, harus dilakukan pemeriksaan paru,'' tuturnya.

PPOK bisa mengakibatkan gagal jantung. Gejala dan tanda penyakit jantung akibat paru adalah sesak, mengi atau napas berbunyi, batuk, bengkak pada anggota tubuh bagian bawah, seperti kaki dan pergelangannya, tidak kuat beraktivitas fisik, rasa tak nyaman di dada, kulit yang berwarna kebiru-biruan, pembuluh darah leher yang melebar, bengkak perut, pembesaran hati, serta perubahan bunyi jantung.

PPOK tidak menular. Orang dewasa bisa mengidap PPOK, tapi tidak pada anak-anak. Meski tak menular, PPOK bisa mengurangi kualitas hidup dan mengubah struktur tubuh, seperti dada menggembung, paru-paru memanjang, serta diafragma tertarik ke atas. (one)