09.40
0
I Dewa Gde Paramartha
Mojokerto-(satujurnal.com)
Jumlah warga Kota Mojokerto yang memilih untuk tidak memilih (golput) dalam Pileg 2014 menurun dibanding Pilwali, Agustus 2013.

Jika warga Kota Mojokerto yang tidak memberikan suaranya pada Pilwali sebanyak 19 persen, dalam Pileg yang digelar 9 April lalu turun menjadi sekitar 15 persen.

"Terjadi peningkatan partisipasi masyarakat sekitar 5 persen. Kalau pilwali angka partisipasi masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya sebesar 81 persen, Pileg tahun ini sekitar 85 sampai 86 persen. Artinya golput turun dari 19 persen menjadi sekitar 15 persen," kata Ketua KPU Kota Mojokerto, I Dewa Gde Paramartha, Selasa (15/04/2014).

Angka partisipasi warga Kota Mojokerto dan prosentase golput dalam pesta demokrasi limatahunan itu didapat pihaknya dari rekapitulasi perhitungan suara di dua PPK yang ada. "Secara resmi kami baru akan menghitung jumlah suara pemilih
Pileg 19 April nanti. Tapi dari perhitungan PPK Prajurit Kulon, partisipasi pemilih sebesar 87 persen. Sedang di PPK Magersari sekitar 84,5 persen, atau secara keseluruhan tingkat partisipasi 85-86 persen," ujar Dewa.

Di level lokal, kata Dewa, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemilu sekitar 4 persen sampai 5 persen jika dikomparasi dengan Pilwali 2013 yang tembus 81 persen. "Di level nasional, tingkat partisipasi warga Kota Mojokerto lebih tinggi, karena secara nasional tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu kali ini ditarget mencapai 75 persen," imbuhnya.

Kian tergerusnya golput dan kian bergairahnya publik kota Mojokerto mengalir ke bilik suara untuk  mencoblos dalam Pileg 2014 karena peran serta berbagai elemen masyarakat.  �Sosialisasi pemilu kali ini tidak hanya ditanggung KPU sendiri. Ada Relawan Demokrasi (Relasi) yang terlibat dalam penyampaian materi pemilu, serta dibantu partai, caleg dan elemen-elemen lain,� ujarnya.

Jika sosialisasi pemilu sebelumnya sifatnya teritorial, kali ini dilakukan pendekatan sektoral dengan melibatkan secara langsung lima kelompok masyarakat, yakni kelompok marjinal, difabel, pemilih pemula, agama dan perempuan. �Mereka sebelumnya belum tergarap dengan baik," imbuh Dewa. (one)