11.39
0
Hari Senin, 17 Agustus 2009, kemerdekaan RI kembali diperingati untuk ke-64 tahun. Hari kemerdekaan, tak lepas dari sumbangsih kaum pejuang yang tergabung di Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Namun seiring perkembangan zaman, nama veteran rupanya tak banyak mendapat perhatian atas kehormatan yang telah diraih. Bahkan, mereka merasa, nasionalisme generasi saat ini berangsur-angsur mulai luntur. Benarkah?

---

MENCARI sisa-sisa kaum pejuang kemerdekaan RI di Kabupaten/Kota Mojokerto bukan sesuatu yang mudah. Meski disebut-sebut jumlah mereka cukup banyak, namun untuk menemui satu per satu sebagian pahlawan kemerdekaan itu cukup membutuhkan waktu.

Seiring bertambahnya usia dan pesatnya penduduk, nama mereka seperti sulit untuk ditemukan. Bahkan diyakini, dimasing-masing desa/kelurahan tidak semua warga pernah menjadi bekas pejuang. Data yang tercatat di Cabang LVRI Mojokerto Graha Purna Yudha (Granada) yang berkantor di Kelurahan/Kecamatan Magersari diketahui ada sekitar 900 lebih.

Itu pun sebagian besar merupakan janda veteran yang tergabung atas Persatuan Istri Veteran Republik Indonesia (PIVRI). ''Hampir 50 persen lebih mereka yang tergabung dalam LVRI adalah anggota PIVRI," terang Ketua Cabang LVRI Mojokerto yang meliputi Kabupaten/Kota, Letkol CPM M. Ridwan.

Pensiunan Polisi Tentara RI (PTRI) sekarang CPM, tinggal di Jl Karyawan Nomor 18 Kelurahan Sentanan, Kecamatan Magersari. Meski menjabat sebagai Ketua LVRI Cabang Mojokerto, hari-harinya hanya digunakan untuk menikmati usianya yang sudah mencapai 81 tahun.

Semasa menjadi pejuang, M. Ridwan rupanya salah satu parjurit yang sangat setia dan mencintai tanah kelahiran. Terbukti, bapak 8 anak itu pernah menjadi Komandan Regu PTRI Kompi Jombang.

Bahkan di ruang tamu rumahnya, bergelantungan berbagai lencana kepangkatan dan peenghargaan semasa aktif sebagai prajurit TNI. Dimana semasa penjajahan wilayah pertahanannya berada di Benjeng Gresik. ''Saat itu (penjajahan, Red) kita ada sektor-sektor pertahanan yang terbagi di semua wilayah," katanya.

Menurut dia, wilayah sektor pertahanan yang tersebar di semua kecamatan pernah menjadi tempat persembunyian para prajurit/tentara perjuangan yang ditarik mundur seusai berperang di Surabaya menghadapi Belanda. ''Itu sekitar tahun 1946 hingga 1949,'' kenangnya.

Walau pada saat meraih kemerdekaan dibutuhkan pertaruhan nyawa di medan perang, namun suami (alm) Sehati itu, justru menanggapi biasa atas kenangan yang pernah dijalani. Itu tak lain, lantaran semua pejuang atau prajurit TNI pernah merasakan hal yang sama. ''Bagi saya momentum HUT Kemerdekaan RI seperti ini tidak ada yang istimewa. Karena, saya yakin semua tentara dan prajurit mengalami hal yang sama,'' jelas kakek 15 cucu ini.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, mantan guru militer (Gumil) di Pusat Pendidikan Militer Bandung itu, merasa nasionalisme perlahan-lahan mulai luntur. Berbeda dengan semasa dia mengabdikan diri pada negara, tidak ada satu pun pejuang yang rela jika nasionalisme itu ada yang mencoreng.

Sebab, itu dianggap sama dengan meruntuhkan harkat dan martabat bangsa. ''Jiwa nasionalisme pemuda sekarang (sangat) kurang. Mungkin karena situasinya berbeda dengan dulu semasa penjajahan," jelasnya.

Kendati tidak menyebut contoh, namun lunturnya nasionalisme tersebut salah satunya dampak dari gaya hidup yang berubah. ''Saya tidak mau memberi contoh, nanti takut salah. Saya rasa semua orang sudah tahu kenapa nasionalisme itu berkurang,'' urainya.

Sebagai orang nomor satu di LVRI Cabang Mojokerto, untuk menangkal agar jiwa nasionalisme tetap berkobar di hati para mantan pejuang, M. Ridwan mengaku tetap mengoptimalkan kegiatan yang sifatnya mempererat dan memupuk sisa perjuangan.

Seperti halnya, membuat berbagai macam pertemuan selama satu bulan sekali. Atau pada momentum-momentum tertentu. ''Ada pembinaan, arisan atau sekadar kumpul-kumpul. Yang penting ada kegiatan," imbuhnya.

Dia lantas menjelaskan, memang keberadaan veteran di kabupaten/kota belakangan dirasakan minim akan perhatian pemerintah daerah. Baik dari Pemkab maupun Pemkot Mojokerto. Bahkan, meski dua tahun lalu Kabuapaten/Kota se-Indonesia diimbau oleh LVRI pusat agar memperhatikan nasib veteran di daerah, namun hingga saat ini pemkab belum pernah menyentuh.

''Kalau Pemkot masih ada perhatian. Ya seperti pada momen Agustusan. Kita masih menerima bantuan berupa sembako. Tapi kalau pemkab belum ada sama sekali. Meski sifatnya untuk sekadar meringankan beban," ungkapnya.

Veteran seperti M. Ridwan mungkin masih beruntung. Kendati dimakan usia dan pendengarannya mulai menurun, namun dari sisi ekonomi dia masih cukup mapan. Bukan saja topangan dari anak cucu, namun pensiunan yang masih disandangnya dirasa bisa memenuhi kebutuhan. ''Tapi tidak sedikit veteran dan anggota PIVRI yang butuh perhatian. Bukan saja tidak ada keluarga lagi, namun kondisi mereka cukup memprihatinkan, Ada yang sudah cacat, lumpuh, bahkan mengalami kebutaan," ujarnya.

Karenanya dia berharap, adanya momentum HUT RI ini, pemkab dan pemkot lebih memperhatikan. Walau sekadar membantu meringankan beban hidup. Sebab, kata M. Ridwan, keberadaan para pemimpin daerah seperti bupati dan wali kota, tidak dapat dipisahkan dengan perjuangan yang diraih para veteran.

''Yang jelas harus ada perhatian dari pemerintah daerah. Walau sifatnya sekadar meringankan beban hidup. Karena saya prihatin melihat mereka (veteran, Red), sebab tidak sedikit yang kondisi kehidupan serbasusah," paparnya.

Sumber : Radar Mojokerto